Pondok Pesantren Salafiyah Al Furqon yang merupakan suatu Lembaga Pendidikan di bawah naungan Yayasan Islam Al Furqon Magelang (Ustadz Muhammad Wujud)

Baca Profil Lengkap https://ppsaalfurqon.ac.id/profil/

Takut Melakukan Kesyirikan

Khutbah Jumat: Takut Melakukan Kesyirikan

Oleh: Abu Farhan

Khutbah Pertama:ْ

إِنَّ ٱلْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِٱللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ ٱللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا ٱتَّقُوا ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ.

يَا أَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءً ۚ وَٱتَّقُوا ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.

يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا ٱتَّقُوا ٱللَّهَ وَقُولُوا۟ قَوْلًۭا سَدِيدًۭا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَٰلَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۚ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ أَصْدَقَ ٱلْحَدِيثِ كِتَابُ ٱللَّهِ، وَخَيْرَ ٱلْهُدَىٰ هُدَىٰ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَشَرَّ ٱلْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍۢ بِدْعَةٌ، وَكُلُّ بِدْعَةٍۢ ضَلَٰلَةٌ، وَكُلُّ ضَلَٰلَةٍۢ فِى ٱلنَّارِ.

Hadirin rahimakumullah,

Saya berwasiat kepada diri saya dan kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Bertakwalah kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Semoga kita selalu dalam lindungan dan rahmat-Nya.

Hadirin rahimakumullah,

Pada kesempatan khutbah kali ini, marilah kita bersama-sama merenungkan betapa bahayanya kesyirikan dalam kehidupan seorang Muslim. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa: 48)

Ayat ini menunjukkan betapa besar bahaya kesyirikan dalam Islam. Allah subhanahu wata’ala menegaskan bahwa dosa syirik tidak akan diampuni jika seseorang meninggal dalam keadaan belum bertaubat, sementara dosa-dosa lain masih berpeluang mendapatkan ampunan sesuai kehendak-Nya. Ini mengajarkan kepada kita bahwa menjaga kemurnian tauhid adalah hal yang paling utama dalam kehidupan seorang Muslim. Syirik bukan sekadar kesalahan biasa, melainkan dosa besar yang menempatkan pelakunya dalam kemurkaan Allah.

Oleh karena itu, kita harus selalu waspada dan berhati-hati dalam beribadah, memastikan bahwa setiap amal yang kita lakukan hanya untuk Allah semata, tanpa ada sedikit pun niat untuk menyekutukan-Nya dengan sesuatu yang lain.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Kesyirikan adalah dosa yang paling besar, lebih besar dari dosa-dosa lainnya. Sampai-sampai Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, seorang nabi yang sangat bertauhid, berdoa kepada Allah:

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari penyembahan berhala.” (QS. Ibrahim: 35)

Ayat ini menunjukkan bahwa bahkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, seorang hamba yang sangat dekat dengan Allah, masih merasa khawatir akan bahaya syirik dan berdoa agar dirinya serta keturunannya dijauhkan dari menyembah berhala. Ini menjadi pelajaran bagi kita bahwa tidak ada seorang pun yang bisa merasa aman dari godaan syirik, sehingga kita harus selalu meminta perlindungan kepada Allah.

Kesyirikan bisa muncul dalam berbagai bentuk, baik yang nyata seperti penyembahan berhala, maupun yang tersembunyi seperti riya’ dan ketergantungan hati kepada selain Allah. Oleh karena itu, kita harus selalu meningkatkan pemahaman tauhid, menjaga keikhlasan dalam beribadah, dan senantiasa memohon kepada Allah agar ditetapkan dalam iman yang lurus hingga akhir hayat.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengingatkan kita dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Mahmud bin Labid:

أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِرْكُ الأَصْغَرُ، قَالُوا: وَمَا الشِرْكُ الأَصْغَرُ؟ قَالَ: الرِيَاءُ.

“Yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Mereka bertanya, ‘Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Riya’ (pamer dalam ibadah).” (HR. Ahmad 328)

Hadits ini mengajarkan kepada kita bahwa bahaya kesyirikan tidak hanya terletak pada syirik besar yang jelas seperti menyembah selain Allah, tetapi juga pada syirik kecil yang sering kali tersembunyi, yaitu riya’. Riya’ adalah ketika seseorang melakukan ibadah bukan karena Allah, tetapi untuk mendapatkan pujian atau pengakuan dari manusia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai mengkhawatirkan hal ini karena riya’ dapat merusak amal ibadah tanpa disadari oleh pelakunya. Ini mengingatkan kita untuk selalu menjaga keikhlasan dalam beribadah.

Hanya mengharap ridha Allah, bukan sekadar ingin dilihat atau dipuji oleh orang lain. Oleh karena itu, kita harus selalu berdoa agar dijauhkan dari sifat riya’ dan senantiasa memperbaiki niat dalam setiap amal yang kita lakukan.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Syirik tidak hanya berbentuk penyembahan kepada berhala, tetapi juga dalam bentuk mencari perlindungan atau pertolongan selain kepada Allah, serta melakukan amalan ibadah dengan niat yang tidak ikhlas karena Allah. Bahkan, seseorang yang mengaku Muslim pun bisa terjerumus ke dalam syirik jika tidak berhati-hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَن ْ مَات َ وَهُو َ يَدْعُو مِن ْ دُونِ ِ َّللاَِّ نِدًّا دَخَل َ النَّارَ

“Barang siapa meninggal dalam keadaan menyeru selain Allah sebagai tandingan-Nya, maka ia masuk neraka.” (HR. Bukhari 4297)

Hadits ini menegaskan bahwa kesyirikan adalah dosa yang sangat berbahaya dan membawa konsekuensi berat di akhirat. Seseorang yang meninggal dalam keadaan masih menyeru selain Allah—baik itu berdoa, meminta pertolongan, atau bergantung kepada sesuatu selain-Nya dengan keyakinan yang salah—akan mendapatkan hukuman neraka. Ini menunjukkan bahwa tauhid adalah syarat utama keselamatan di akhirat.

Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam keyakinan dan ibadah, memastikan bahwa segala bentuk doa, harapan, dan ketergantungan hanya ditujukan kepada Allah semata. Kita juga perlu terus belajar tentang tauhid agar terhindar dari berbagai bentuk kesyirikan, baik yang nyata maupun yang tersembunyi, sehingga kita meninggal dalam keadaan tetap berpegang teguh pada keimanan yang murni.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Marilah kita senantiasa memperbaiki dan menjaga tauhid kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَن ْ لَقِي َ َ َّللاََّ َّلَ يُشْرِك ُ بِه ِ شَيْئًا دَخَل َ الْجَنَّةَ، وَمَن ْ لَقِيَه ُ وَهُو َ يُشْرِك ُ بِه ِ شَيْئًا دَخَل َ النَّارَ

“Barang siapa bertemu Allah (meninggal dunia) dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, maka ia masuk surga. Dan barang siapa bertemu dengan-Nya dalam keadaan menyekutukan-Nya dengan sesuatu, maka ia masuk neraka.” (HR. Muslim 93)

Hadits ini menjelaskan betapa pentingnya menjaga kemurnian tauhid hingga akhir hayat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa siapa saja yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, maka ia akan mendapatkan jaminan masuk surga. Sebaliknya, siapa yang meninggal dalam keadaan masih melakukan kesyirikan, maka tempat kembalinya adalah neraka. Ini menunjukkan bahwa keselamatan seorang hamba bergantung pada ketauhidannya, bukan sekadar banyaknya amal, tetapi seberapa ikhlas ia dalam beribadah hanya kepada Allah. Oleh karena itu, kita harus selalu menjaga keimanan, menghindari segala bentuk kesyirikan, baik besar maupun kecil, dan senantiasa berdoa agar Allah menguatkan hati kita dalam tauhid hingga akhir hayat.

Maka marilah kita kembali kepada tauhid yang murni, jauhi segala bentuk syirik, baik syirik besar maupun syirik kecil. Jangan sampai kita melakukan perbuatan yang membahayakan akidah kita. Sebelum kita menutup khutbah ini, marilah kita berdoa kepada Allah agar diberikan keteguhan hati dalam tauhid dan dijauhkan dari segala bentuk kesyirikan.

اأَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّي وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ فَقَالَ:

اللَّهُ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعْوَاتِ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى، وَالتُّقَى، وَالْعَفَافَ، وَالْغِنَىَ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيعِ سَخَطِكَ.

اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا، وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الْآخِرَةِ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، اللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيهِ صَلَاحُ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِّهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

اللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوءِ وَالْمُفْسِدِينَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنَا شِرَارَنَا.

اللَّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوبِنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا، وَلَا يَخَافُكَ فِينَا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عباد الله، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Postingan ini menarik? yuk bagikan ke media sosial anda sekarang

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *